Kisah Shahabat: Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu

“Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya dan keberkahan untuknya.”

(Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuknya)

Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha’ mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. lbunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaan kepada Nabiyul Islam Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi mulia tersebut dan hanya mendengar kisah beliau sebatas dari orang ke orang.

Tidak mengherankan, karena terkadang telinga lebih dulu merindukan sesuatu daripada mata.

Betapa seringnya Anas kecil berangan bisa berkelana menemui Nabinya di Makkah atau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa datang kepada mereka di Yatsrib sehingga dia bisa berbahagia karena bisa melihatnya dan tenteram karena berjumpa dengannya.

Angan-angan itu dalam waktu dekat ternyata telah berubah menjadi kenyataan, Yatsrib yang membanggakan dan berbahagia mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya, ash-Shiddiq, sedang dalam perjalanan ke arahnya. Maka keceriaan menaungi semua rumah dan kebahagiaan menyelimuti semua hati.

Mata dan hati bergayut dengan jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa langkah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya ke Yatsrib.

Anak-anak muda bergumam setiap cahaya pagi bersinar, Muhammad telah datang. Maka Anas bersama anak-anak kecil lainnya berlari-lari hendak menyambutnya, namun dia tidak melihat siapa pun, dia pun pulang dengan sedih lagi kecewa.

Di suatu pagi yang indah yang penuh asa dan keceriaannya yang semerbak, orang-orang Yatsrib pun saling berbisik satu sama lain, “Muhammad dan shahabatnya telah berjalan mendekati Madinah.”

Mata orang banyak pun berhamburan ke jalan-jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa Nabi petunjuk dan kebaikan kepada mereka.

Mereka berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau secara bergelombang, kelompok demi kelompok, di sela-sela mereka ada sekum­pulan anak-anak yang tak kalah bersemangat, wajah-wajah mereka dihiasi kebahagiaan dan menyatu dengan hati kecil mereka serta yang penuh sutra cita memenuhi jiwa mereka yang jernih.

Di barisan depan anak-anak tersebut adalah Anas bin Malik al-Anshari.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan shahabatnya ash-Shiddiq datang, keduanya berjalan di antara kumpulan orang-orang dewasa dan anak-anak dalam rombongan yang besar.

Adapun kaum wanita dan gadis-gadis remaja yang biasa tinggal di rumah maka mereka naik ke atap-atap rumah, mereka ingin melihat Rasulullah seraya berguman, “Yang mana dia? Yang mana dia?”

Hari itu adalah hari yang tidak terlupakan. Anas bin Malik senantiasa mengingatnya sampai dia berumur seratus tahun lebih.

Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, al-Ghumaisha’ binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anas anak laki-lakinya yang masih kanak-kanak, anak laki-laki itu berlarian di depan ibunya dengan ujung rambut yang jatuh di keningnya.

Al-Ghumaisha’ mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, “Ya Rasulullah, semua laki-laki dan wanita dari Anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apa pun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai dengan apa yang engkau inginkan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbahagia, beliau memandang anak muda ini dengan wajah berseri-seri, beliau mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia, menyentuh ujung rambutnya dengan jari-jemari beliau yang lembut dan beliau menganggapnya sebagai keluarga.

Anas bin Malik atau Unais (Anas kecil), begitu terkadang mereka memanggilnya sebagai ungkapan sayang kepalanya, berumur sepuluh tahun manakala dia berbahagia bisa berkhidmat untuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Anas hidup di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.

Selama itu Anas memperoleh bimbingan dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang dengannya dia menyucikan jiwanya. memahami hadits beliau yang memenuhi dadanya, mengenal akhlak beliau yang agung, rahasia-rahasia dan sifat-sifat terpuji beliau yang tidak dikenal oleh orang lain.

Anas bin Malik mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah diperoleh oleh seorang anak dari bapaknya. Mengenyam keluhuran perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keagungan sifat-sifatnya yang membuat dunia patut untuk iri kepadanya.

Biarkanlah Anas sendiri yang menyampaikan sebagian lembaran cemerlang dari perlakuan mulia yang dia dapatkan di bawah naungan seorang nabi yang pemurah dan berhati mulia, karena Anas lebih tahu tentangnya dan lebih berhak untuk menceritakannya.

Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul , aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah, aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat Rasulullah.”

Demi Allah, aku. telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan ini?” Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tinggalkan ini?”

Bila Rasulullah memanggil Anas, terkadang beliau memanggilnya dengan Unais sebagai ungkapan cinta dan kasing sayang, dan di lain waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya, “Wahai anakku.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah beliau yang memenuhi hati dan jiwanya.

Di antara nasihat-nasihat itu adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya:

“Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunnahku, barangsiapa menghidupkan sunnahku maka dia menyintaiku. Barangsiapa menyintaiku maka berarti dia bersamaku di surga… Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat selama delapan puluh tahun lebih, selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.

Selama itu Anas menghidupkan hati umat dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Yang dia sebarkan di antara para shahabat dan tabiin, [2] dengan sabda-sabda Rasulullah yang berharga dan perbuatan-perbuatan beliau yang mulia Yang dia tebarkan di antara manusia.

Dengan umurnya yang panjang, Anas menjadi rujukan bagi kaum muslimin di masa hidupnya, mereka bertanya kepadanya setiap mereka dihadang oleh perkara penting dan setiap kali pemahaman mereka tidak menjangkau sebuah hukum.

Di antaranya, sebagian orang-orang yang gemar berdebat dalam agama berselisih tentang haudh (telaga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Kiamat, maka mereka bertanya kepada Anas tentang hal itu, Anas pun berkata, “Aku tidak pernah menyangka akan bisa hidup sehingga aku melihat orang-orang seperti kalian yang berdebat dalam perkara telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh aku telah meninggalkan wanita-wanita tua di belakangku, setiap dari mereka tidak melakukan shalat kecuali dia memohon kepada Allah agar memberinya minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Anas bin Malik terus hidup bersama kenangannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama kehidupan berlangsung.

Dia sangat berbahagia pada hari pertemuannya dengan beliau, sangat bersedih di hari perpisahannya dengan beliau, sangat sering mengulang-ulang sabda beliau.

Dia sangat bersungguh-sungguh untuk mengikuti beliau dalam sabda­-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, menyintai apa yang beliau cintai, membenci apa yang beliau benci. Dua hari yang paling diingat oleh Anas dalam hidupnya: Hari pertemuannya dengan Nabi pertama kali dan hari perpisahannya dengan beliau untuk terakhir kali.

Bila Anas teringat hari pertama maka dia berbahagia dan bersuka cita, namun jika hari kedua terlintas di benaknya maka dia menangis berduka, membuat orang-orang yang di sekelilingnya ikut menangis.

Anas sering berkata, “Sungguh aku telah melihat hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami dan aku juga melihat hari di mana Rasulullah meninggalkan kami. Aku tidak melihat dua hari yang menyerupai keduanya. Hari kedatangan beliau di Madinah, segala sesuatu di sana bercahaya. Tetapi hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hampir menghadap kepada Rabbnya, segala sesuatu terasa gelap gulita.

Pandangan terakhirku kepada beliau terjadi di hari Senin ketika kain penutup kamar beliau dibuka, aku melihat wajah beliau seperti kertas mushaf, pada saat itu orang banyak sedang berdiri di belakang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melihat kepada beliau, mereka hampir saja bubar, namun Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada di tempat.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di pagi hari itu. Kami tidak pernah melihat suatu pemandangan yang paling kami kagumi daripada wajah beliau manakala kami memasukkan tanah ke kubur beliau.”

Rasulullah berdoa untuk Anas bin Malik lebih dari sekali.

Di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuknya:

“Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya, berkahilah dia padanya. “

Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu ‘anhu menjadi orang Anshar yang paling banyak hartanya, paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia melihat anak-anak dan keturunannya melebihi angka seratus.

Allah Ta’ala memberkahi umurnya sehingga dia hidup selama 103 tahun.

Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Kiamat, Anas sering berkata, “Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah di hari Kiamat, lalu aku berkata kepada beliau, Aku adalah pelayan kecilmu, Unais.”

Ketika Anas sakit yang dalam sakitnya ini dia meninggal, dia berkata kepada keluarganya, “Talqinlah aku dengan La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah.” Maka Anas senantiasa mengucapkannya sampai dia meninggal.

Anas radhiyallahu ‘anhu mewasiatkan agar mengubur tongkat kecil milik Rasulullah bersamanya, maka tongkat itu diletakkan di sampingnya.

Selamat untuk Anas bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang telah mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah Ta’ala. Dia hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung selama sepuluh tahun sempurna.

Dia adalah orang ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah membalasnya dan membalas ibunya atas apa yang dia berikan untuk islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. [3]

Foot Note:

1. Ada yang berkata bahwa nama Ibu Anas adalah ar-Rumaisha’ atau al-Ghumaisha’, padahal yang rajih adalah bahwa keduanya merupakan julukan baginya. Lihat karya penulis.

2. Tabiin adalah generasi pertama setelah para shahabat, para ulama hadits membagi mereka menjadi thabaqat-thabaqat (tingkatan-tingkatan), yang pertama dari mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan sepuluh shahabat yang dijamin masuksurga dan yang terakhir dari mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan para shahabat muds atau yang dipanjangkan usianya. Lihat buku Shuwar min Hayat at-Tabiin karya penulis yang diterbitkan oleh Darul Adab al-Islami.

3. Untuk menambah wawasan tentang kehidupan Anas bin Malik al-Anshari, silahkan merujuk: al-Ishabah, (I/71) atau (at-Tarjamah) 277; al-Isti’ab (dicetak bersama al-Ishabah), (I/71); Tahdzib at-Tahdzib, (I/376); al-Jam’u baina ash-Shahihain, (I/35); Ushudul Ghabah, (I/258); Shifat ash-Shafwah, (I/298); al-Ma’arif, (133); al-Ibar, (I/107); Sirah Bathal, (107); Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi (III/329); Ibnu Asyakir, (III/139); al-Jarh wat Ta’dil, (Q1,I/286).

Sumber: Buku ”Mereka Adalah Para Shahabat, Dr.Abdurrahman Ra’fat Basya, Penerbit at-Tibyan, Hal.13-18

http://kisahislam.net/2012/04/12/anas-bin-malik-radhiyallahu-anhu/

Terbakarnya Masjid al-Dhirar


Masjid al-Dhirar (: مسجد الضرار‎), juga dirujuk sebagai Masjid Munafiq atau Masjid Pencabulan ialah sebuah masjid yang dibina oleh penduduk Madinah yang didirikan berhampiran Masjid Quba. Masjid tersebut pada mulanya diperakui oleh baginda Nabi Muhammad semasa dalam perjalanan untuk Perang Tabuk tetapi selepas kepulangan baginda, baginda mengarahkan kemusnahan masjid tersebut. Peristiwa ini berlaku pada Oktober 630 Masihi. Dalam riwayat umum kebanyakan ulama dan para sarjana, masjid ini dibina oleh dua belas orang munafik dari golongan Ansar atas arahan Abu 'Amir al-Rahib; rahib Kristian yang enggan menerima ajakan Nabi Muhammad kepada Islam malah turut bertarung bersama Musyrikin Makkah menentang Islam dalam Peperangan Uhud. Abu 'Amir dilaporkan turut menyuruh mereka itu membina kubu dan menyediakan apa sahaja dari segi kekuatan ataupun senjata-senjata seperti yang dijanjikannya dan meyakinkan mereka bahawa dia akan membawa tentera, disokong oleh Heraclius, untuk melawan Muhammad dan sahabat baginda dan menghalau mereka dari Madinah. Ahmad ibn Yahya al-Baladhuri turut meriwayatkan yang golongan ini, yang membina masjid Al-Dhirar "dengan tujuan membahayakan, dan kemungkaran serta memecah-belahkan perpaduan orang-orang yang beriman" enggan bersembahyang di Masjid Quba dan mendakwa masjid itu dibina di tempat keldai pernah ditambat.

Nabi Muhammad bersedia untuk ke masjid itu, sebelum baginda dihalang oleh wahyu tentang kemunafikan dan niat jahat pembina masjid tersebut. Baginda dan sahabat baginda percaya mereka adalah kaum munafiq dan mempunyai agenda jahat dalam pembinaan Masjid Dhirar. Maka, baginda mengarahkan orang-orang baginda meruntuh dan membakar masjid tersebut.

Menurut sejarah Islam, Nabi Muhammad diminta untuk bersolat di situ sebagai tanda pengakuan dan perasmian masjid tersebut tetapi menerima wahyu (disebut di dalam Al-Quran Surah At-Taubah ayat 107 dan 110 yang menyebabkan masjid tersebut dimusnahkan. Disebabkan itu, masjid tersebut turut dikenali sebagai Masjid Pembangkang.

Menurut Syeikh Dr Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy dalam "Fiqhus Sirah", kisah masjid ini merupakan puncak tipu daya orang-orang munafiq kepada Nabi Muhammad , maka, baginda terus mengambil tindakan tegas berdasarkan wahyu dari Allah.


Abu 'Amir ar-Rahib merupakan seorang yang beragama Hanif. Walau bagaimanapun, dia tidak menyukai Nabi Muhammad , dan dilaporkan bertarung dalam Perang Badar. Dia mahu mempertahankan status penduduk Madinah yang membenarkannya untuk mengamalkan agamanya secara bebas. Dia juga menyertai pasukan Musyrikin Quraisy menentang Islam ketika Peperangan Uhud. Kebanyakannya mengatakan yang Abu Amir telah meminta bantuan pemerintah Byzantine untuk membantunya menentang Nabi Muhammad . Abdullah ibn Ubayy pula ialah anak saudaranya. Abu Amir meninggal pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijrah di perkarangan istana Heraclius.

Ibnu Kathir menyebut di dalam tafsirnya yang Abu 'Amir Ar-Rahib (rahib Kristian) memberitahu golongan Muslim munafiq Ansar untuk membina masjid. Abu Amir juga diriwayatkan berkata kepada beberapa orang yang dia akan berjumpa dengan Maharaja (Caesar) Empayar Byzantine dan kembali dengan Tentera Rom untuk menghalau Muhammad.

Menurut Ar-Rahīq al-Makhtum, buku moden kisah Nabi Muhammad yang dikarang oleh penulis India Muslim Saif ur-Rahman Mubarakpuri, masjid yang diberi nama Masjid-e-Dharar telah dibina oleh kaum Munafiq. Apabila masjid tersebut siap dibina, pembinanya mendekati Nabi Muhammad untuk bersembahyang di dalamnya. Tetapi baginda mengangguhkan dahulu hal tersebut sehingga kepulangan baginda dari Perang Tabuk. Melalui wahyu, Nabi Muhammad telah diberitahu tentang tujuan masjid tersebut yang mempunyai unsur menentang Islam. Maka, kembalinya baginda dari Tabuk, baginda menghantar sepasukan tentera Islam untuk memusnahkan masjid tersebut.

Ahmad ibn Yahya al-Baladhuri turut menyebut akan hal ini. Beliau berkata yang masjid tersebut telah dibina oleh mereka yang enggan bersembahyang di Masjid Quba hanya kerana ia dibina di tempat yang pernah tertambatnya seekor keldai. Mereka lebih rela membina masjid lain sehingga Abu Amir boleh mengimamkan sembahyang di dalamnya. Walau bagaimanapun, Abu Amir tidak pernah memeluk Islam tetapi dia lebih rela untuk meninggalkan Madinah dan memeluk agama Kristian. Banu Amir ibn Awf telah membina Masjid al-Quba dan Nabi Muhammad telah mengimamkan sembahyang di dalamnya tetapi, satu lagi kabilah yang bersaudara, Banu Ghan ibn Awf telah berasa iri hati dan turut mahukan Nabi Muhammad bersembahyang di dalamnya, tetapi mereka turut berkata: "Abu Amir mungkin melalui kawasan ini dalam perjalannya dari Syam, dan mengimamkan sembahyang kita".Nabi Muhammad yang bersiap untuk ke masjid tersebut telah dihalang oleh turunnya wahyu yang mendedahkan tentang niat jahat dan kemunafikan pembina masjid itu.

Perincian peristiwa
Apabila Nabi Muhammad pulang dari Tabuk, tentera Muslim telah berhenti di Dhu Awan. Seperti yang baginda maklumkan, baginda ingin untuk ke masjid itu bagi mengotakan kata baginda. Kemudian, turunlah wahyu yang menegaskan baginda tentang larangan untuk bersembahyang di dalam masjid tersebut:
“ Jangan engkau sembahyang di masjid itu selama-lamanya, kerana sesungguhnya masjid (Qubaa' yang engkau bina wahai Muhammad), yang telah didirikan di atas dasar taqwa dari mula (wujudnya), sudah sepatutnya engkau sembahyang padanya. Di dalam masjid itu ada orang-orang lelaki yang suka (mengambil berat) membersihkan (mensucikan) dirinya; dan Allah Mengasihi orang-orang yang membersihkan diri mereka (zahir dan batin). [al-Quran 9:108] ”

Sesetengah orang Islam yang membina masjid tersebut mendakwa yang masjid itu dibina untuk orang yang lemah, sakit dan memerlukan. Disebabkan wahyu mendedahkan tentang kemunafikan mereka, baginda mengarahkan tentera baginda untuk membakarnya. Tentera tersebut memasuki masjid itu dan membakarnya walaupun ada orang "lemah dan sakit" di dalamnya dan selepas itu orang-orang tersebut melarikan diri dari situ".

Ibnu Kathir berkata, memberitahu yang Nabi Muhammad mengutus Malik bin Dukhsyum, Ma'an bin Adi,' Amir bin As-Sakan dan Wahsyi. Kemudian berkata,
“ "Pergilah kalian ke masjid yang didirikan oleh orang-orang zalim (Masjid Dhirar), kemudian hancurkan dan bakarlah." ”

Maka mereka pun berangkat dengan segera. Malik bin Dukhsyum mengambil api dari pelepah kurma dari rumahnya. Mereka bertolak lalu membakar dan menghancurkan masjid tersebut.

Analisis dan spekulasi

Isma'il Qurban Husayn (terjemahan at-Tabari, Jilid 9, Tahun-tahun Terakhir Nabi) berspekulasi dengan menyatakan dalam nota kaki 426, yang orang tersebut "mungkin" dikaitkan dengan mereka yang ingin membunuh Nabi Muhammad dalam Perang Tabuk, tetapi Tabari sendiri tidak mendakwa sedemikian.

William Muir pula menyebut yang Nabi Muhammad percaya masji tersebut dibina untuk memecah belahkan perpaduan orang Islam dengan menarik mereka ke masjid lain di Quba selain Masjid Quba, yang pertama kali dibina oleh orang Islam atas dasar takwa.

Sumber Islam

Peristiwa ini turut disebut dalam al-Quran Surah At-Taubah ayat 107:
“ Dan (di antara orang-orang munafik juga ialah) orang-orang yang membina masjid dengan tujuan membahayakan (keselamatan orang-orang Islam), dan (menguatkan) keingkaran (mereka sendiri) serta memecah-belahkan perpaduan orang-orang yang beriman, dan juga untuk (dijadikan tempat) intipan bagi orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sebelum itu. Dan (apabila tujuan mereka yang buruk itu ketara), mereka akan bersumpah dengan berkata:" Tidaklah yang kami kehendaki (dengan mendirikan masjid ini) melainkan untuk kebaikan semata-mata ". Padahal Allah menyaksikan, bahawa sesungguhnya mereka adalah berdusta. [al-Quran 9:107] ”


Ilmuan Islam Ibnu Kathir dalam tafsirnya bagi ayat tersebut:
“ (Jika kita kembali dari perjalanan kita, Insya Allah.) Apabila Rasulullah pulang dari Tabuk dan kira-kira satu atau dua hari lagi dari Al-Madinah, Jibril turun kepada baginda dengan berita mengenai Masjid Ad-Dhirar dan kekufuran dan perpecahan antara orang yang beriman, iaitu orang yang menjadi ahli Masjid Quba (yang dibina atas dasar takwa dari hari pertama), bahawa Masjid Ad-Dhirar bertujuan untuk hal tersebut. Oleh itu, Rasulullah menghantar beberapa orang ke Masjid Ad-Dhirar untuk menghancurkannya sebelum baginda sampai ke Al-Madinah. 'Ali bin Abi Talhah meriwayatkan bahawa Ibn` Abbas berkata mengenai ayat ini (9: 107), "Mereka adalah beberapa orang dari golongan Ansar yang Abu Amir berkata, 'Bina Masjid dan sediakan apa sahaja yang anda boleh sama ada kuasa dan senjata, kerana saya akan berjumpa Caesar, maharaja Rom, untuk membawa tentera Rom yang dengannya akan saya usir Muhammad dan sahabatnya.' Apabila mereka membina Masjid mereka, mereka datang kepada Nabi dan berkata kepadanya, "Kami selesai membina Masjid kami dan kami ingin anda berdoa di dalamnya dan berdoa kepada Allah bagi kita untuk rahmat-Nya

[Tafsir ibn Kathir tentang ayat 9:107]. ”


Peristiwa ini turut disebut oleh ulama al-Tabari seperti berikut:
“ "Rasulullah berjalan sehingga baginda berhenti di Dhu Awan, sebuah pekan yang perjalananya satu jam siang hari dari Madinah. Orang-orang yang telah membina Masjid Percanggahan (masjid al-dhirar) telah datang kepada baginda ketika baginda bersedia untuk Tabuk dengan berkata, 'Wahai Rasulullah, kami telah membina masjid untuk yang sakit dan mereka yang memerlukan dan untuk berteduh dari hujan dan sejuk, dan kami ingin anda melawat kami dan mendoakan kami di dalamnya.' [Nabi] berkata bahawa baginda di ambang perjalanan, dan baginda sibuk, atau perkataan yang bermaksud sedemikian, dan apabila baginda kembali, Insya-Allah, baginda akan datang kepada mereka dan berdoa untuk mereka di dalamnya. Apabila baginda berhenti di Dhu Awan, berita masjid itu datang kepada baginda, dan baginda memanggil Malik b. al-Dukhshum, saudara dari Bani Salim b. 'Auf, dan Ma'n b. 'Adi, atau saudaranya 'Asim b. 'Adi, saudara-saudara Banu al-'Ajlan, dan berkata, "Pergilah ke masjid ini yang pemiliknya adalah orang-orang yang zalim dan hancurkan dan bakarlah ia". Mereka keluar dengan rancak sehingga mereka sampai ke (perkarangan kawasan) Bani Salim b. 'Auf yang merupakan kabilah Malik b. al-Dukhshum. Malik berkata kepada Ma'n, "Tunggu saya sehingga saya membawa api dari kabilahku." Dia pergi ke kaum kerabat dan mengambil pelepah kurma dan menyalakannya. Kemudian kedua-dua mereka berlari sehingga mereka masuk ke dalam masjid, bertembung dengan orang-orangnya di dalam, lalu membakar dan memusnahkannya dan mereka bersurai. Dalam hal ini, ia diturunkan dalam al-Quran ...

[Tabari, Jilid 9, Tahun-tahun Terakhir Nabi, m/s 60-61] ”


Hal ini turut disebut oleh Ibnu Mardawaih yang meriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata, "Ibnu Syihab az-Zuhri menyebutkan dari Ibnu Akimah al-Laitsi dari anak saudara Abi Rahmi al-Ghifari r.a. yang dia mendengar Abi Rahmi al-Ghifari r.a. (dia termasuk yang ikut baiat kepada Rasulullah pada hari Hudaibiyah) berkata:

“ "Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirar kepada Rasulullah , pada saat baginda bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah , kami telah membina masjid buat orang-orang yang sakit mahupun yang mempunyai keperluan pada malam yang sangat sejuk dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan solat di masjid tersebut.” Kemudian Rasulullah menjawab,” Aku sekarang mahu berangkat berpergian, insya-Allah setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian.” Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk, baginda beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi khabar kepada baginda tentang masjid tersebut yang mereka niatkan untuk membahayakan kaum muslimin dan sebagai bentuk kekafiran.”

Lubabun Nuqul fi asbabin nuzul hal. 111, Darul Maktabah Ilmiyyah,Syamilah

KISAH PERJALANAN ISRA MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW – Seringkali di kalangan masyarakat kita, dalam mendefinisikan isra dan mi’raj, mereka menggabungkan Isra Mi’raj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dan untuk meluruskan hal tersebut, pada kesempatan ini saya bermaksud mengupas tuntas pengertian isra dan mi’raj, sejarah isra mi’raj nabi muhammad SAW serta hikmah dari perjalanan isra’ mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.

Pengertian / Definisi Isra dan Mi’raj

Isra Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.

Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.

Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.

Sejarah / Kisah Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan kerjakan shalat”.

Rasulullahpun turun. Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”

“tidak tahu”, kata Rasul.

“Engkau berada di Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.

Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.

Jibril menurunkan Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”

“Saudaramu para Nabi dan Rasul”.

Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha.

“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).

Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan kebaikan“.

Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.

Rasul membaca lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.

Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.

“Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.

Kemudian Rasul turun ke Sidratul Muntaha.

Jibril berkata : “Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur”.

Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.

Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.

Mandapat Mandat Shalat 5 waktu

Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.

Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al – Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

Hikmah Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW

Perintah sholat dalam perjalanan isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).

Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.

Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan mendalam kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani?

Bagaimana dengan mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana dengan mikraj kita sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? Semua dibahas secara gamblang dalam buku ini.

Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.


Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.


Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”.

Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.

Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.

Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.

Melihat foto di atas, mungkin banyak dari kita akan segera memilih foto sebelah kanan sebagai Masjid Al-Aqsa. Namun percayalah, foto sebelah kiri yang berupa masjid dengan kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya.

Dewasa ini, telah terjadi banyak kesalahpahaman diantara umat muslim tentang masjid Al-Aqsa yang sebenarnya. Banyak umat muslim maupun non-muslim yang mempublikasikan foto Masjid Al-Aqsa yang salah, tapi yang mengkuatirkan saat ini, kebanyakan umat muslim memajang foto Qubbatus Shakrah (Kubah Batu/ Dome of The Rock) dirumah maupun dikantor mereka dengan sebutan Masjid Al-Aqsa. Ini telah menjadi kesalahan umum di dunia muslim.

Namun tragedi sesungguhnya adalah bahwa kebanyakan generasi muda/ anak-anak muslim (sebagaimana juga muslim dewasa) diseluruh dunia, tidak dapat membedakan antara Masjid Al Aqsa dengan Qubbatus Shakrah (Kubah Batu).

Mengenal Kompleks Masjid Al-Aqsa


Al-Masjid El-Aqsa merupakan nama arab yang berarti Masjid terjauh. 10 tahun setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, beliau melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Jerusalem) dan kemudian menuju langit ketujuh untuk menerima perintah sholat 5 waktu dari Allah, peristiwa ini disebut Isra’ Miraj.

Sebelum turun perintah menjadikan Mekkah sebagai kiblat sholat umat muslim, selama 16 setengah bulan setelah Isra Miraj, Jerusalem dijadikan arah kiblat.


Ketika masih hidup, Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat muslim untuk tak hanya mengunjungi Mekkah tapi juga Masjid Al-Aqsa yang berjarak sekitar 2000 kilometer sebelah utara Mekkah.

Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di Mekkah, dan tempat suci dan tempat terpenting ketiga setelah Mekkah dan Madinah.

Luas kompleks Masjid Al-Aqsa sekitar 144.000 meter persegi, atau 1/6 dari seluruh area yang dikelilingi tembok kota tua Jerusalem yang berdiri saat ini. Dikenal juga sebagai Al Haram El Sharif atau oleh yahudi disebut Kuil Sulaiman. Kompleks Masjid Al-Aqsa dapat menampung sekitar 400.000 jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung sekitar 5.000 jamaah, selebihnya sholat di kompleks yang ber-area terbuka).

Pembangunan kembali kompleks Masjid Al-Aqsa dimulai 6 tahun setelah Nabi wafat oleh Umar Bin Khattab. Beliau menginginkan untuk dibangun sebuah masjid di selatan Foundation Stone (membelakangi Foundation Stone, menghadap selatan/Mekkah). Pembangunan tersebut dilakukan oleh Khalifah Ummayah Abd Al Malik Ibn Marwan dan diselesaikan oleh anaknya Al Walid 68 tahun setelah Nabi wafat dengan diberi nama Masjid Al Aqsha.

Di pusat kompleks Kuil Sulaiman, terdapat Foundation Stone yaitu batu landasan yang dipercaya umat Yahudi sebagai tempat Yahweh menciptakan alam semesta dan tempat Abraham mengorbankan Isaac. Bagi umat Islam batu ini adalah tempat Nabi Muhammad menjejakkan kakinya untuk Mi’raj. Untuk melindungi batu ini, Khalifah Abd Al Malik Ibn Marwan membangun kubah dan masjid polygon, yang kemudian terkenal dengan nama Dome of The Rock (Kubah batu).

Kekeliruan antara Masjid Al-Aqsa dengan Dome of The Rock dan Agenda Israel menghapuskan Masjidil Aqsa

Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama bagi Umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka’bah dengan perintah Allah SWT. Kini berada di dalam kawasan jajahan Yahudi. Dalam keadaan yang demikian, disinyalir pihak Yahudi telah mengambil kesempatan untuk mengelirukan pengetahuan Umat Islam dengan mengedarkan gambar Dome of The Rock sebagai Masjidil Aqsa.

Tujuan mereka hanyalah satu: untuk meruntuhkan Masjidil Aqsa yang sebenarnya dan mendirikan kembali haikal Sulaiman. Saat ini, hanya “Tembok sebelah Barat” yang tersisa dari bangunan kuil atau istana Sulaiman yang masih berdiri, dan pada saat yang bersamaan tempat ini dinamakan “Tembok Ratapan/Wailing Wall” oleh orang Yahudi. Apabila Umat Islam sendiri sudah keliru dan sulit untuk membedakan Masjidil Aqsa yang sebenarnya, maka semakin mudahlah tugas mereka untuk melaksanakan rencana tersebut, karena bila Masjid Al-Aqsa diruntuhkan, kebanyakan umat tidak akan menyadarinya.

Berikut disertakan terjemahan surat yang ditulis dan dikirimkan oleh Dr. Marwan kepada ketua pengarang harian “Al-Dastour” tentang kekeliruan umat dan hubungannya dengan rencana zionis.

Terdapat beberapa kekeliruan antara Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock. Apabila disebut tentang Masjidil Aqsa di dalam media lokal maupun internasional, foto The Dome of The Rock-lah yang ditampilkan. Alasannya adalah untuk mengalihkan masyarakat umum yang merupakan siasat Israel. Tinjauan ini diperoleh saat saya tinggal di USA, dimana saya telah mengetahui bahwa Zionis di Amerika telah mencetak dan mengedarkan foto tersebut dan menjualnya kepada orang arab dan Muslim. Kadangkala dijual dengan harga yang murah bahkan kadang diberikan secara gratis agar Muslim dapat mengedarkannya dimana saja. Baik dirumah maupun kantor.

Hal ini meyakinkan saya bahwa Israel ingin menghapuskan gambaran Masjid Al-Aqsa dari ingatan umat Islam supaya mereka dapat memusnahkannya dan membangun kuil mereka tanpa ada publikasi. Bila ada yang membangkang atau memprotes, maka Israel akan menunjukkan foto The Dome of The Rock yang masih utuh berdiri, dan menyatakan bahwa mereka tidak berbuat apa-apa. Siasat yang sungguh pintar! Saya juga merasa amat terperanjat ketika bertanya kepada beberapa rakyat arab, Muslim, bahkan rakyat Palestina karena mendapati mereka sendiri tidak dapat membedakan antara kedua bangunan tersebut. Ini benar-benar membuatkan saya merasa kesal dan sedih karena hingga kini Israel telah berhasil dalam siasat mereka.

Dr. Marwan Saeed Saleh Abu Al-Rub Associate Professor,

Mathematics Zayed University Dubai

Demikianlah, dengan kondisi yang mengkuatirkan ini, kita sebagai muslim hendaklah turut membantu menyebarkan informasi yang benar kepada saudara kita dan dunia. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari distorsi informasi lebih jauh yang akhirnya akan merugikan umat bila tidak disikapi dengan baik.


Wallahua’lam.

Kisah Abu Jahal Menikmati Syahdunya Al Qur’an

Sebetulnya, Abu Jahal merasa takjub dengan Al Qur’an. Akan tetapi, karena gengsi dan kesombongannya, Abu Jahal tidak mau terang-terangan mengakuinya. Sampai akhirnya apa yang dia sembunyikan itu terbongkar.

Suatu malam Abu Jahal keluar secara diam-diam ke rumah ponakannya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Dia mencuri dengar bacaan Al Qur’an keponakannya itu, dan tanpa terasa terangnya subuh mulai menggulung gelapnya malam. Merasa kuatir tindakannya diketahui orang lain, Abu Jahal pulang dengan langkah yang hati-hati. Akan tetapi takdir Allah mempertemukan dia di perjalanan dengan dua temannya, yaitu Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq.

Sungguh mengagetkan sekaligus menggelikan, ternyata mereka baru saja melakukan hal yang sama, mencuri dengar bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan mereka.

Namun nyatanya, malam kedua mereka kembali lagi. Mereka mengingkari janji mereka lagi. Dan Allah pun mempertemukan mereka kembali di jalan, semakin malulah mereka. Lalu mereka membuat janji lagi untuk tidak mengulanginya. Tapi apa yang terjadi?

Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri dengar bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di rumahnya. Dan, mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, berjanji lagi, dan lagi. Masing-masing mereka berjanji akan mengakhiri perbuatan mereka itu.

Kejadian itu membuat Akhnas bin Syuraiq bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti itu? Akhnas bin Syuraiq tidak bisa menahan dirinya untuk meminta pendapat tentang apa yang dirasakan oleh kedua temannya. Ia pun pergi ke rumah Abu Sufyan.

“Ceritakan padaku wahai Abu Hanzhalah, apa yang kamu rasakan saat kamu mendengarnya dari Muhammad?”, tanyanya.

Abu Sufyan menjawab, “Wahai Abu Tsa’labah, demi Allah, aku telah mendengar sesuatu yang aku tahu maknanya. Dan aku juga mendengar seuatu yang aku tidak tahu maknanya”. Akhnas menimpali, “Dan aku, demi Allah, juga mersakan hal yang sama”!

Merasa mendapat Akhnas kesan yang sama dari Abu Sufyan, Akhnas meneruskan langkahnya ke kediaman Abu Jahal.

“Wahai Abul Hakam, apa yang kamu rasakan saat mendengar dari Muhammad?”, tanyanya.

Abu Jahal menjawab, “Apa yang aku dengar?”. Dengan gaya diplomatis dan rasa gengsi yang tinggi ia berkata, “Kita telah bersaing dengan keturunan Abdi Manaf dalam kemulian. Mereka memberi makan orang, kita pun memberi makan orang. Mereka menolong orang, kita juga menolong orang, mereka memberi kita juga memberi, sampai kita kalah seperti halnya tadi malam. Seolah kita adalah kuda yang tergadaikan”.

Akhnas berkata, “Aku aku tak perlu basa-basimu. Sekarang jelas, telah datang seorang Nabi dari bangsa kita, yang telah diberikan wahyu kepadanya. Kapan kita menyambut kesempatan yang emas ini?”. Dengan sombongnya Abu Jahal berkata, “Demi Allah kita tidak akan mengimaninya dan membenarkannya!”

Demikianlah Abu Jahal yang tahu akan kebenaran, akan tetapi kesombongannya membumbung tinggi bagai gunung yang membuatnya tidak mau mengakui kebenaran. Tapi, ada yang menarik dari kisah di atas. Abu Jahal menikmati syahdunya Al Qur’an hingga subuh, lantas kenapa kita baru lima menit sudah ingin tidur? Kusisakan pertanyaan kecil tersebut sebagai penutup dalam sepotong kisah ini. Semoga Allah memberkahimu…

———
Diterjemahkan bebas dari kitab, “Siroh ibn Hisyam”, yang dikenal dengan “As Siroh An Nabawiyah”.

Akhukum fillah, Achmad Tito Rusady.

Sumber: Facebook Majalah Al Umm

Kisah Ulama Tabi’in: Amir bin Abdullah at-Tamimi

Sekarang kita berada di tahun 14 H. saat dimana para pembimbing generasi dan guru utama di kalangan para sahabat dan senior tabi’in membuat perbatasan kota Bashrah atas perintah khalifah muslimin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berpegang di negeri Parsi. Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah serta sebagai menara untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Di kota ini, kaum muslimin dari segala penjuru Jazirah Arab, ada yang dari Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga perbatasan daerah kaum muslimin. Di antara yang turut berhijrah tersebut terdapat pemuda Najd dari Bani Tamim yang dipanggil dengan nama Amir bin Abdullah at-Tamimi al-Anbari. Usianya masih remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya, dan takwa hatinya.Kendati masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena tertumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas murni.

Namun begitu, bagi pemuda dari bani Tamim ini hal itu bukanlah yang ia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah, berpaling dari dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya kepada Allah dan keridhaan-Nya.

Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung, Abu Musa al-Asy’ari, semoga Allah meridhainya dan menjadikan wajahnya berseri di surga-Nya. Beliau adalah wali kota Bashrah yang bercahaya. Beliau juga adalah panglima perang yang berasal dari Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke jalan Allah.

Kepada Abu Musa al-Asy’ari inilah Amir bin Abdillah berguru, baik dalam kondisi perang maupun damai. Aktif menemani beliau setiap menempuh perjalanan, meneguk ilmu darinya tentang kitabullah yang masih segar seperti tatkala diturunkan di hati Muhammad. Juga mengambil hadits shahih yang bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Yang mulia. Beliau menuntut ilmu tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan Abu Musa al-Asy-‘ari.

Setelah beliau menyempurnakan ilmu sesuai yang dikehendaki, maka beliau membagi hidupnya menjadi tiga bagian.Bagian pertama adalah untuk halaqah dzikir di masjid Bashrah yang disana dibacakan dan diajarkan Al-Qur’an kepada manusia.

Kedua, beliau pergunakan untuk mengenyam manisnya ibadah, beliau pancangkan kedua kakinya berdiri di hadapan Allah hingga letih kedua telapak kakinya.Ketiga, untuk terjun ke medan jihad, beliau menghunus pedangnya untuk berperang di jalan Allah. Seluruh umurnya tidak pernah absen dari tiga kesibukan itu, sehingga beliau dikenal dengan abid (ahli ibadahnya) dan ahli zuhudnya penduduk Bashrah.

Di antara berita tentang keadaan Amir bin Abdillah adalah seperti yang dikisahkan oleh seorang putra Bashrah yang mengatakan, “Aku pernah mengikuti safar beserta rombongan yang di dalamnya terdapat Amir bin Abdillah, tatkala menjelang malam kami singgah di hutan. Aku lihat Amir mengemasi barang-barangnya, mengikat kendaraannya di pohon dan memanjangkan tali pengikatnya, mengumpulkan rerumputan yang dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya…kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang di dalamnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Demi Allah, aku akan mengikutinya dan aku ingin melihat apa yang sedang ia lakukan di tengah hutan malam ini.” Aku melihat Amir berjalan hingga berhenti di suatu tempat yang lebat perpohonannya dan tersembunyi dari pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, beridiri untuk shalat. Aku tidak melihat shalat yang lebih bagus, lebih sempurna dan lebih khusyuk dari shalatnya. Setelah berlalu dari beberapa rakaat yang dikehendaki Allah, dia berdo’a kepada Allah dan bermunajah kepada-Nya. Diantara yang dia ucapakan ialah, “Wahia Ilahi, sungguh Engkau telah menciptakan aku dengan perintah-Mu, lalu Engkau tempatkan aku ke dunia ini sesuai kehendak-Mu, lalu Engkau perintahkan “berpegang teguhlah!”, bagaimana aku akan berpegang teguh jika Engkau tidak meneguhkan aku dengan kelembutan-Mu ya Qawiyyu yaa Matiin! Wahai Ilahi…sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya aku memiliki dunia dan seluruh isinya, kemudian diminta untuk meraih ridha-Mu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang memintanya, maka berikanlah jiwaku kepadaku ya Arhamar Rahimin! Wahai Ilahi…kecintaan kepada-Mu yang sangat, membuatku terasa ringan menghadapi musibah, ridha atas segala qadha’, maka aku tidak peduli terhadap apa pun yang menimpa diriku pagi dan sore harinya selagi masih bisa mencintai-Mu.”

Putra Bashrah itu melanjutkan, “Kemudian rasa kantuk mendatangiku hingga aku tertidur. Berkali-kali aku tidur dan bangun sedang Amir masih tegak di tempatnya, tetap dalam shalat dan munajahnya sampai datanglah waktu Shubuh.Usai shalat Shubuh beliau berdo’a:

“Ya Allah, waktu Shubuh telah datang, manusia segera bangun dan pergi mencari karunia-Mu. Sesungguhnya masing-masing mereka memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir di sisi-Mua adalah agar Engkah mengampuninya. Ya Allah, kabulkanlah keperluanku dan juga keperluan mereka yang akramal akramin. Ya Allah, sesungguhnya aku telah memohon kepada-Mu tiga perkara, lalu Engkau mengabulkan dua diantaranya dan tinggal satu saja yang belum. Ya Allah perkenankanlah permohonan tersebut sehingga aku bisa beribadah kepada-Mu sesuka hatiku dan sekehendakku!”

Beliau beranjak dari tempat duduknya dan tiba-tiba pandangan matanya tertuju kepadaku. Beliau terperanjat dan berkata, “Apakah Anda membututiku sejak kemarin malam wahai saudarakau dari Bashrah?” aku menjawab, “Benar.” Beliau berkata, “Rahasiakanlah apa yang Anda lihat, semoga Allah merahasiakan aib Anda!” aku menjawab, “Demi Allah, engkau beritahukan aku terlebih dahulu tentang tiga permohonanmu kepada Allah tersebut, atau akau akan memberitahukan kepada manusia tentang apa yang aku lihat darimu.” Beliau berkata, “Duhai celaka, jangan sampai engkau beritahukan kepada orang lain!” aku katakan, “Dengan syarat engkau penuhi permintaanku kepadamu.” Maka tatkala beliau melihat keseriusanku, beliau berkata, “Akan aku ceritakan asalkan Anda mau berjanji kepada Allah untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun.” Aku berkata, “Baiklah aku berjanji kepada Allah untuk tidak menyebarkan rahasia ini selagi Anda masih hidup.” Lalu beliau berkata:

“Tiada sesuatu yang memudharatkan agama yang lebih aku takuti dari fitnah wanita, maka aku memohon kepada Rabb-ku agar mencabut rasa cinta (syawatku) kepada wanita, maka Allah mengabulkan do’aku sehingga tatkala aku berjalan, aku tidak peduli apakah yang aku lihat seorang wanita ataukah tembok.” Aku berkata, “Ini yang pertama, lantas apa yang kedua?” beliau menjawab, “Yang kedua adalah aku memohon kepada Rabb-ku agar tidak diberi rasa takut kepada siapapun selain Dia, maka Allah mengabulkan aku sehingga demi Allah, tiadalah yang aku takuti baik yang dilangit dan di bumi selain Dia.”Aku bertanya, “Lantas apa do’a yang ketiga?” beliau menjawab, “Aku memohon kepada Allah agar menghilangkan rasa kantuk dan tidur sehingga aku bisa beribadah kepada-Nya di malam dan siang hari sesuka hatiku, namun Allah belum mengabulkannya.” Tatkala aku mendengar dari beliau, ak uberkata, “Kasihanilah dirimu, Anda telah melakukan shalat di malam hari dan shaum di siang hari, padahal surga dapat diraih dengan amal yang lebih ringan dari apa yang Anda kerjakan. Dan neraka dapat dihindari dengan perjuangan yang lebih ringan dari apa yang Anda usahakan.” Beliau berkata, “Aku taku jika nanti aku menyesal selagi tiada bermanfaat sedikit pun penyesalan itu. Demi Allah aku akan bersungguh-sungguh untuk beribadah, tidak ada pilihan lain, jika aku selamat itu semata-mata karena rahmat Allah, jika aku masuk neraka maka itu karena keteledoranku.”

Amir bin Abdullah bukan sekedar ahli ibadah di waktu malam saja, namun juga mujahid di siang harinya. Tiada penyeru jihad fi sabilillah memanggil melainkan beliau segera mendatanginya.

Sudah menjadi kebiasaan beliau, manakala hendak bergabung bersama para mujahidin yang hendak berperang, beliau melihat-melihat kelompok pasukan untuk memilihnya. Jika beliau dapatkan yang sesuai, beliau berkata kepada mereka, “Wahai saudara, sesungguhnya aku ingin berbagung bersama kelompok kalian ini jika kalian mau mengabulkan tiga permintaanku.” Mereka bertanya, “Apa tiga permintaan tersebut?” Beliau menjawab, “Pertama, hendaknya kalian perkenan aku untuk menjadi pelayan bagi keperluan kalian, maka tidak boleh seorang pun diantara kalian merebut tugas tersebut. Kedua, hendaknya aku lah yang dijadikan mu’adzin, maka tidak boleh seorang pun diantara kalian merebut tugas adzan untuk shalat. Ketiga, hendaklah kalian ijinkan aku untuk menginfakkan hartaku kepada kalian sesuai kemampuanku.” Jika merek a menjawab, “Ya”, maka beliau segera bergabung, namun dijawab tidak, maka beliau mencari kelompok pasukan lain yang mau menerima permintaan tersebut.

Sungguh di kalangan para mujahidin tersebut, Amir bin Abdillah mengambil bagian paling banyak dalam hal resiko dan kesusahan, namun mengambil bagian terkecil dalam hal yang menyenangkan ( pembagian ghanimah). Beliau terjun di kancah peperangan dengan gigih yang tiada orang lain segigih beliau dalam berperang. Akan tetapi di saat pembagian ghanimah, tiada yang lebih enggan menerimanya kecuali beliau.Inilah Sa’ad bin Abi Waqash tatkala usai perang Qadisiyah di istana Kisra, beliau perintahkan Amru bin Muqoorin untuk mengumpulkan ghanimah dan dan menghitungnya agar selanjutnya seperlima dari ghanimah tersebut dikirim ke baitul maal bagi kaum muslimin. Adapun sisanya dibagikan kepada para mujahidin. Maka dikumpulkanlah harta benda berharga yang luar biasa banyaknya. Disana ada keranjang besar yang tertumpuk oleh tumpukan bebatuan berisi penuh bejana-bejana dari emas dan perak yang biasa dipakai oleh raja-raja Persi untuk makan dan minum.

Ada pula sebuah kotak dari kayu mewah yang tatkala dibuka ternyata berisi baju-baju, pakaian dan selendang-selendang kaisar yang berenda permata dan mutiara. Ada lagi kotak perhiasan yang berisi barang-barang berharga seperti kalung dan perhiasan yang beraneka ragam. Ada juga kotak yang berisi senjata-senjata milik raja-raja Persi terdahulu, dan pedang-pedang raja maupun pemimpin yang tunduk kepada Persi sepanjang perjalanan sejarah.

Di saat orang-orang bekerja menghitung ghanimah di bawah pengawasan kaum muslimin…tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yang kusut dan berdebu sedang membawa kota perhiasan yang berukuran besar dan berat bebannya, dia mengangkat dengan kedua tangannya sekaligus.

Mereka memperhatikan dengan seksama, mata mereka belum pernah melihat kota perhiasan sebesar itu, belum ada pula di antara kotak perhiasan yang terkumpul yang setara atau mendekati besarnya dengan kotak tersebut. Mereka melihat apa yang ada di dalamnya, ternyata penuh berisi perhiasan permata dan intan, lalu mereka bertanya kepada laki-laki tersebut, “Dimanakan Anda mendapatkan simpanan yang berharga tersebut?” orang tersebut menjawab, “Aku dapatkan dalam peperangan anu…di tempat anu..” Mereka bertanya, “Sudahkan Anda mengambil sebagiannya?” orang itu menjawab, “Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian! Demi Allah, sesungguhnya kotak perhiasan ini dan seluruh apa yang dimiliki raja-raja Persi bagiku tidaklah sebanding dengan kuku hitamku. Kalaulah bukan karena ini bukanlah hak dari kaum muslimin niscaya aku tidak sudi mengangkutnya dari dalam tanah dan tidak akan kubawa ke sini.” Mereka bertanya, “Siapakah Anda, semoga Allah memuliakan Anda!” Orang itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memberitahukannya karena kalian nanti akan memujiku, tidak pula aku ceritakan kepada selain kalian karena mereka akan menyanjungku. Akan tetapi aku memuji Allah Ta’ala dan mengharap pahala-Nya.” Kemudian ia meninggalkan mereka dan pergi. Mereka menyuruh seseorang untuk mengikuti laki-laki misterius tersebut. Utusan tersebut terus membuntuti di belakangnya tanpa sepengetahuan beliau hingga sampai kepada para sahabatnya. Utusan tersebut bertanya kepada mereka perihal laki-laki itu, lalu merek a menjawab, “Apakah Anda belum tahu siapa laki-laki itu? Dialah ahli zuhudnya orang bashrah…Amir bin Abdillah at-Tamimi.”

Meski demikian g emilangnya perjalanan hidup Amir bin Abdillah –sebagaimana yang Anda lihat- namun beliau tidak terhindar pula dari hasutan dan gangguan manusia.

Beliau menghadapi resiko seperti yang biasa dialami oleh orang yang lantang menyuarakan kebenaran, mencegah kemungkaran dan berusaha untuk menghilangkannya.

Peristiwa yang melibatkan beliau mendapatkan hasutan tersebut bermula ketika beliau melihat salah seorang anak buah dari kepala polisi Bashrah sedang memegang leher seorang ahli Dzimmah dan menariknya. Sementara orang dzimmi tersebut berteriak meminta tolong kepada manusia, “Tolonglah aku, semoga Allah menolong kalian! Tolonglah ahli dzimmah yang dilindung Nabi kalian wahai kaum muslimin!” maka Amir bin Abdillah menghampirinya dan bertanya, “Kamu sudah menunaikan jizyah yang menjadi kewajibanmu?” ahli dzimmah itu menjawab, “Ya, aku sudah menunaikannya.” Kemudian Amir menoleh kepada orang yang memegang leher ahli dzimmah tersebut dan bertanya, “Apa yang Anda inginkan darinya?” dia menjawab, “Aku ingin dia pergi bersamaku untuk membersihkan kebun milik kepala polisi.” Amir bertanya kepada si dzimmi, “Anda berhasrat untuk bekerja di tempat tersebut?” Si dzimmi menjawab, “ Tidak, karena tugas itu akan memeras tenagaku dan aku tidak bisa mencari makan untuk keluargaku!” lalu Amir menoleh lagi kepada laki-laki yang memegang leher dzimmi tersebut, “Lepaskanlah dia!” Ia menjawab, “Aku tidak akan melepaskannya.”

Maka tidak ada pilihan bagi Amir selain menyelamatkan orang dzimmi tersebut sembari berkata, “Demi Allah, tidak boleh perjanjian orang dzimmi (untuk dilindungi) dengan nabi Muhammad dibatalkan selagi saya masih hidup.” Kemudian berkumpullah manusia dan turut membantu Amir mengalahkan polisi itu dan akhirnya selamatlah orang dzimmi tersebut. Sebagai pelampiasan teman-teman petugas polisi tersebut menuduh Amir sebagai orang yang tidak taat pemerintah dan keluar dari ahlus sunnah wal jama’ah. Mereka berkata, “Dia tidak mau menikah dengan wanita… tidak mau makan daging hewan dan susunya..tidak mau menghadiri pertemuan yang diadakan pemerintah..” dan mereka mengadukan persoalan tersebut kepada amirul mukminin Utsman bin Affan.

Khalifah memangging wali Bashrah untuk memanggil Amir bin Abdillah dan meminta keterangan kepadanya perihal tuduhan yang ditujukan kepadanya, lalu hasilnya agar dilaporkan kepada khalifah. Maka wali Bashrah memanggil Amir dan berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin –semoga Allah memanjangkan umurnya- telah menyuruhku bertanya kepadamu perihal perkara-perkara yang dituduhkan kepada Anda.” Amir menjawab, “Silahkan Anda bertanya sesuai yang diinginkan amirul mukminin.” Lalu wali Bashrah bertanya, “Mengapa Anda menjauhi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan tidak mau menikah?” beliau menjawab, “Aku tidak ingin menikah bukan karena menyimpang dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. karena aku tahu tidak ada kerahiban (hidup membujang untuk beribadah) dalam Islam. Namun aku hanya memiliki satu jiwa saja, maka aku jadikan ia untuk Allah dan aku khawatir jika istriku kelak akan mengalahkan hal itu.”

Wali berkata, “Lalu mengapa Anda tidak mau makan daging?” beliau menjawab, “Aku bersedia memakannya bila aku berselera dan aku mendapatkannya. Namun bila aku tidak berselera atau aku berselera tapi aku tidak mendapatkannya maka aku tidak memakannya.” Beliau ditanya lagi, “Mengapa Anda tidak mau makan keju?” beliau menjawab, “Sesungguhnya di daerah saya banyak tinggal orang-orang majusi yang membuat keju, mereka adalah suatu kaum yang tidak membedakan antara bangkai dengan hewan yang disembelih, sehingga saya khawatir jika minyak yang merupakan salah satu bahan pembuat keju berasal dari hewan yang tidak disembelih. Jika telah ada dua orang muslim yang melihat bahwa keju tersebut dibuat dari minyak hewan yang disembelih, tentulah aku akan memakannya.” Beliau ditanya, “Apa yang menghalangi Anda untuk mendatangi pertemuan yang diadakan pemerintah dan menyaksikannya?” beliau menjawab, “Sesungguhnya di depan pintu kalian begitu banyak orang yang ingin dipenuhi hajatnya, maka undanglah mereka ke tempat kalian dan cukupilah kebutuhan mereka dengan apa yang kalian punya, dan biarkanlah orang yang tidak meminta kebutuhan kepada kalian.”

Usai pertemuan tersebut, jawaban Amir bin Abdillah ini dilaporkan kepada amirul mukminin Utsman bin Affan dan khalifah memandang tidak ada indikasi menyimpang dari ketaatan atau keluar dari ahlus sunnah wal jama’ah pada diri amir.Hanya saja api kejahatan belum berhenti sampai disitu, isu yang membicarakan keburukan Amir bin Abdillah makin gencar, hingga nyaris terjadi fitnah antara pembela beliau dengan orang-orang yang menjadi saingannya, lalu Utsman bin Affan memerintahkan beliau untuk pindah ke negeri Syam dan menjadikan negeri tersebut sebagai tempat tinggalnya. Khalifah mewasiatkan walikota Syam Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk menyambut baik kedatangan Amir dan menjaga kehormatannya.

Sampailah hari dimana Amir bin Abdillah memutuskan untuk berpindah dari Bashrah. Para sahabat dan murid-murid beliau keluar untuk mengucapkan perpisahan dengan beliau. Mereka mengantar beliau hingga sampai ke Marbad, setibanya disana beliau berkata kepada mereka, “Sesungguhnya saya adalah penyeru maka jagalah seruanku.” Lalu orang-orang melongok agar dapat melihat beliau dan mereka tenang tak bergerak dan mata mereka tertuju kepada beliau, sementara beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a, “Ya Allah, orang yang telah menghasut dan mendustaiku serta menjadi sebab terusirnya aku dari negeriku, memisahkan antara diriku dengan para sahabatku..ya Allah, sesungguhnya aku telah memaafkannya maka maafkanlah dia. Berilah ia karunia kesehatan dalam agama dan dunianya. Limpahkanlah aku, dia dan juga seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu wahai yang palng pengasih” kemudian beliau mengarahkan kendaraannya menuju Syam.

Amir bin Abdillah memutuskan hidup di negeri Syam untuk mengisi sisa-sisa umurnya. Beliau memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggal dan beliau mendapatkan perlakuan baik dari pemimpin Syam, Muawiyah bin Abi Sufyan, dihormati dan dihargai.

Tatkala beliau sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkan Anda menangis, padahal Anda memiliki keutaman ini dan itu?” Beliau menjawab, “Demi Allah, aku menangis bukan karena ingin hidup lama di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangi karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh, aku berada di antara tebing dan jurang..bisa jadi ke surga bisa jadi pula tergelincir ke neraka, aku tidak tahu dimana akan akan sampai…” Kemudian beliau menghela nafas pelan sedang lisannya basah dengan dzikrullah..di sana-di sana..di kiblat yang pertama..Haramain yang ketiga..tempat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’..Amir bin Abdillah berdiam diri.

Semoga Allah menerangi Amir bin Abdillah dalam kuburnya dan membahagiakannya di surga-Nya yang kekal.

Sumber: Buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Pustaka At-Tibyan

Kisah sepotong roti

Dahulu..
ada seorang lelaki yang beribadah selama 60 tahun lamanya..
lalu ia terfitnah oleh seorang wanita..
dan berzina dengannya selama enam hari..
lalu ia sadar dan bertaubat..
ia pun pergi meninggalkan tempat ibadahnya..
lalu ia singgah di sebuah masjid..
dan tinggal di sana selama tiga hari tak ada makanan..
suatu ketika, ada orang yang memberinya roti..
ketika ia hendak memakannya..
ia melihat dua orang yang amat membutuhkan..
ia pun memotong roti..
dan memberikannya kepada keduanya..
sementara ia tak makan..
maka Allah memerintahkan malaikat untuk menimbang..
antara amalannya selama 60 tahun dan zinanya selama 6 hari..
ternyata lebih berat zina selama 6 hari..
lalu Allah memerintahkan menimbang zinanya 6 hari dengan dua potong roti..
ternyata lebih berat dua potong roti
diriwayatkan oleh Nadlr bin Syumail dari perkataan ibnu Mas'ud..
dan ibnu Abu Nuaim meriwayatkan juga kisah yang sama dari Abu Musa Al Asy'ari dengan sanad yang shahih..

lihatlah..
ibadah 60 puluh tahun dikalahkan oleh zina 6 hari..
tidakkah menjadi takut hati kita untuk berbuat maksiat..

lihat juga..
ternyata berinfak di saat kita butuh..
melebihi ibadah selama 60 tahun..
namun..
itu tak mudah..
karena jiwa amat mencintai harta..
kecuali orang yang Allah berikan kekuatan padanya..

Sumber Ustadz Badru Salam-

Kisah Tabi’in: Urwah bin Zubair

Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyama ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan do’a-do’a yang shalih.

Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita diantara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.

Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka bagian dari perhiasan masjid, bersih pakainnya dan menyatu hatinya.Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan.Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang diantara mereka semakin serius. Kemudian seorang diantara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan khayalan mereka melambung tinggi ke alam luas dan cita-cita mereka berputar-putar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara, “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

Saudaranya Mush’ab menyusulnya, “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.”

Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

Sementara itu, Urwah terdiam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi seorang alim (orang berilmu yang beramal), sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang Rabb-nya, sunnah nabinya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surge dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.”

Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair di bai’at menjadi khalifah menggantikan khalifah Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-citanya dahulu.

Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Adapun Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah ayahnya wafat dan bersatulah suara kaum muslimin pasca terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, ia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya.

Bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair? Mari kita ikuti kisahnya dari awal…

Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khalifah al-Faruq. Dalam sebuah rumah yang paling mulia di kalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya.

Adapun ayahnya bernama Zubair bin Awwam, “Hawariy” (pembela) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam serta termasuk salah satu diantara sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

Sedangkan ibunya bernama Asma’ binti Abu Bakar ash-Shidiq yang dijuluki Dzatun nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar Shidiq, khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menemani beliau di sebuah goa.

Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Bibinya adalah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah Ummul Mukminin.

Maka siapa lagi yang kiranya lebih unggul nasabnya dari beliau? Adakah kemuliaan di atasnya selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?

Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang masih hidup.

Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, shalat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’ban bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya Aisyah Ummul Mukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu diantara fuqaha sa’bah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.

Para pemimpin yang shalih banyak meminta pertimbangan kepada beliau baik tentang urusan ibadah maupun Negara karena kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Sebagai contohnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat menjadi gubernur di Madinah pada masa Al-Walid bin Abdul Malik, orang-orang pun berdatangan untuk memberikan selamat kepada beliau.

Usai shalat Dzuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fuqaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh fuqoha itu telah berada di sisinya, maka beliau melapangkan majelis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah bertahmid kepada yang berhak dipuji beliau berkata, “Saya mengundang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran. Saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir di antara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezhaliman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Kemudian Urwah mendo’akan baginya keberuntungan dan memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar senantiasa menjadikan beliau tetap lurus dan tidak menyimpang.

Sungguh telah terkumpul pada diri Urwah bin Zubair antara ilmu dan amal. Beliau membiasakan shoum di musim panas dan shalat di waktu malam yang sangat dingin. Lidahnya senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa bersanding dengan Kitabullah dan tekun membacanya. Beliau menghatamkan seperempat Al-Qur’an setiap siang dengan membuka mushaf, lalu shalat malam membacaya ayat-ayat Al-Qur’an dengan hafalan. Tak pernah beliau meninggalkan hal itu sejak menginjak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yaitu ketika peristiwa mengharukan yang sebentar lagi akan kami beritakan kepada Anda.

Dengan menunaikan shalat, Urwah memperoleh ketenangan jiwa, kesejukan pandangan dan surge di dunia. Beliau tunaikan sebagus mungkin, beliau tekuni rukun-rukunnya secara sempurna dan beliau panjangkan shalatnya sedapat mungkin.

Telah diriwayatkan bawha beliau pernah melihat seseorang menunaikan shalat secepat kilat. Setelah selesai, dipanggilnya orang tersebut dan ditanya, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau tidak memerlukan apa-apa dari Rabb-mu Yang Maha Suci? Demi Allah aku memohon kepada Rabb-ku segala sesuatu sampai dalam urusan garam.”

Urwah bin Zubair rahimahullah adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau pasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binatang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukanlah beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya.

Begitulah orang-orang keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai keinginannya. Setiap kali memasuki kebun, beliau mengulang-ulangi firman Allah:

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah” (sesunggunnya atas kehendak Allah semua itu terwujud. Tiada kekuatan kecuali degan pertolongan Allah)…” (Al-Kahfi: 39).

Suatu masa di masa khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak seoarang pun mampu bertahand an tegar selain orang yang hatinya subur keimanan dan penuh dengan kayakinan.

Tatkala amirul mukminin mengundang Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengajak putra sulungnya. Amirul mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.

Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk ke kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda menyepaknya dengan keras hingga menyebabkan kematiannya.

Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tanah penguburan putranya, salah satu telapak kakinya terluka. Betisnya tiba-tiba membengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya.

Kemudian bergegaslah amirul mukminin mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan mereka untuk mengobati Urwah dengan cara apa pun.

Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalan ke seluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.

Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah, “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi.” Akan tetapi Urwah menolak, “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapatkan afiat (kesehatan). Tabib berkata, “Kalu begitu kami akan membius Anda!” beliau menjawab, “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.”

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya, “Apa yang hendak mereka lakukan?” lalu dijawab, “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakkan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Beliau berkata, “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.”Mulailah Tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illa Allah Allahu Akbar”, sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga tetap bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan dibetis Urwah bin Zubair untuk menghentikan perdarahan dan menutup lukanya. Urwah pingsan untuk beberapa lama dan terhenti membaca ayat-ayat Al-Qur’an di hari itu. Inilah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya.

Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongankakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata, “Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram.”

Kemudian dibacanya syair Ma’an bin Aus:

Tak pernah kuingin tanganku menyentuh yang haram
Tidak juga kakiku membawaku kepada yang haram
Telinga dan pandangan mataku pun demikian
Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran
Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan
Melainkan telah menimpa orang sebelumku.

Kejadian tersebut membuat amirul mukminin, Al-Walid bin Abdul Malid sangat terharu. Urwah telah kehilangan putranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut.Bersamaan dengan itu, di rumah khalifah datang satu rombongan Bani Abbas yang salah seorang di antaranya buta matanya. Kemudian al-Walid menanyakan sebab musabab kebuataannya. Di menjawab, “Wahai amirul mukminin, dulu tidak ada seorang pun di kalangan Bani Abbas yang lebih kaya dalam harta dan anak disbanding saya. Saya tinggal bersama keluarga di lembah di tengah kaum saya. Mendakak muncullah air bah yang langsung menelan habis seluruh harta dan keluarga saya. Yang tersisa bagi saya hanyalah seokor unta dan seorang bayi yang baru lahir. Maka saya taruh bayi itu di atas tanah lalu saya kejar onta tadi. Belum seberapa jauh, saya mendengar jerit tangis bayi itu. Saya menoleh, ternyata kepalanya telah berada di mulut srigala, di telah memangsanya. Saya kembali, tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi karena bayi itu telah habis dilalapnya. Lalu serigala itu lari dengan kencangnya. Akhirnya aku kembali mengejar onta liar tadi sampai dapat. Tapi begitu saya mendekat di menyepak dengan keras hingga hancur wajah saya dan buta kedua mata saya. Demikianlah saya dapati diri saya kehilangan semua harta dan keluarga dalam sehari semalam saja dan hidup tanpa memiliki penglihatan.Kemudian Al-Walid berkata kepada pengawalnya, “Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah, lalu mintalah agar ia mengisahkan nasibnya agar beliau tahu bahwa ternyata masih ada orang yang ditimpa musibah lebih berat darinya.”

Tatkala beliau diantarkan pulang ke Madinah dan menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lama darinya.”

Demi melihat kedatangan dan keadaan imam dan gurunya, maka penduduk Madinah segera datang berbondong-bondong ke rumahnya untuk menghibur.

Yang paling baik diantara teman-teman Urwah adalah dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, “Bergemberila lah wahai Abi Abdillah, sebagian dari tubuhmu dan putramu telah mendahuluimu ke surge. Insya Allah yang lain akan segera menyusul kemudian. Karena rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala meninggalkan engkau untuk kami, sebab kami ini fakir dan memerlukan ilmu fiqih dan pengetahuanmu. Semoga Allah memberikan manfaat bagimu dan juga kami. Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah wali bagi pahala untukmu dan Dia pula yang menjamin kebagusan hisab untukmu.”

Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslimin. Menjadi penunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’i selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyai-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka.

Tak bosan-bosannya beliau memberikan motivasi kepada para putranya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh tenagamu untuknya. Karena, kalaupun hari ini kalian menjadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah menjadikan kalian sebagai pembesar kaum.” Lalu beliau melanjutkan, “Sungguh menyedihkan, adakah di dunia ini yang lebih buruk daripada seorang tua yang bodoh?”

Beliau anjurkan pula kepada mereka untuk memperbanyak sedekah, sedangkan sedekah adalah hadiah yang ditujukan kepada Allah. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian menghadiakan kepada Allah dengan apa yang kalian merasa malu menghadiakannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan.”

Beliau senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang suatu masalah dari sisi hakekatnya. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, jika kalian melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jia melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang-orang di adalah orang yang baik. Sebab setiap perbuatan itu ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menimbulkan kejahatan berikutnya.”

Beliau juga mewasiatkan agar berlemah lembut, bertutur kata yang baik dan berwajah ramah. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, tertulis di dalam hikmah, ‘Jadikanlah tutur katamu indah dan wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai orang daripada suatu pemberian’.”

Jika beliau melihat seseorang condong pada kemewahan dan mengutamakan kenikmatan, diingatkannya betapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membiasakan diri untuk hidup sederhana.

Sebagai contoh adalah kisah yang diceritakan oleh Muhammad bin Al-Munkadir, “Aku bertemu dengan Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku dan berkata, ‘Wahai Abu Abdillah.’ Aku jawab, ‘Labbaik’.”

Urwah berkata, “Aku pernah menjumpai ibuku Aisyah radhiyallahu 'anha lalu beliau berkata, “Wahai anakku, demi Allah, adakalanya selama 40 hari tak ada api di rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk api ataupun masak.” Maka aku bertanya, “Bagaimana Anda berdua hidup pada masa itu?” beliau menjawab, “Dengan korma dan air.”

Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian dan diliputi ketakwaan. Ketika dirasa ajalnya telah dekat dan dia dalam keadaan shaoum, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tetapi beiau menolak keras karena ingin berbuka di sisi Allah dengan minuman dari telaga Al-Kautsar yang dituangkan dalam gelas-gelas perak oleh bidadari-bidadari cantik dari surga.

Sumber: Buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Pustaka At-Tibyan

Perang Uhud

Perang Uhud ( غزوة أحد‎ Ġazwat ‘Uḥud) berlaku pada hari Sabtu, 7 Syawal atau 11 Syawal tahun ketiga hijrah (26 Mac 625 M) antara tentera Islam dengan tentera kafir Quraisy. Perang Uhud adalah pelantar untuk orang Quraisy membalas dendam terhadap kekalahan mereka ketika Perang Badar. Dinamakan Perang Uhud kerana ia berlaku di sebuah tempat yang dikelilingi Bukit Uhud.

Pertempuran ini disertai 1,000 orang tentera Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad s.a.w. menuju ke Uhud tetapi hanya 700 orang sahaja yang berjaya sampai ke medan Uhud. Hal ini kerana di pertengahan jalan seramai 300 orang telah berpatah balik ke Madinah setelah dihasut oleh Abdullah bin Ubai iaitu ketua orang munafiq. Tentera kafir Quraisy seramai 3,000 orang yang diketuai oleh Abu Sufyan ibni Harb.

Nabi Muhammad s.a.w. telah menyusun strategi dengan membahagikan tentera kepada tiga pasukan iaitu pasukan kanan dan kiri berhadapan melawan musuh. Manakala pasukan pemanah seramai 50 orang telah ditempatkan di atas bukit Uhud. Semua tentera pemanah tidak dibenarkan meninggalkan tempat masing-masing kecuali dengan arahan baginda sama ada kalah atau menang.

Pertempuran bermula dengan perang tanding antara kedua pihak yang dimenangi pihak Muslim. Kedua-dua pasukan tentera kemudian mula bertempur, dengan tentera Muslim berjaya menggoyahkan tentera musyrik Quraisy. Pasukan pemanah Muslim lalu turun dari Bukit Uhud apabila melihat tentera Quraisy lari meninggalkan medan perang. Mereka berebut-rebut mengambil harta rampasan perang yang ditinggalkan sehingga mereka lupa larangan Nabi Muhammad supaya tidak meninggalkan Uhud walau apapun yang berlaku.Namun hanya 14 orang pemanah yang beriman sahaja yang tinggal.

Apabila melihat tentera Islam turun dari Bukit Uhud, Khalid bin al-Walid ketua tentera berkuda Quraisy bertindak balas mengelilingi bukit dan melakukan serang hendap dari arah belakang. Dalam serangan tersebut, tentera Islam terkepung dan menjadi lemah kemudian tersebar khabar angin mengatakan Nabi Muhammad s.a.w. telah terbunuh. Keadaan ini menyebabkan tentera Islam menjadi kucar-kacir.

Walau bagaimanapun, Nabi Muhammad s.a.w. masih selamat dengan dilindungi beberapa orang sahabat. Dalam keadaan yang sangat genting itu, Ubai bin Khalaf menghampiri Nabi Muhammad untuk membunuh baginda. Nabi Muhammad sendiri mengambil sebatang tombak dan terus merejam leher Ubai bin Khalaf lalu membunuhnya. Beliau adalah satu-satunya orang yang dibunuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. sepanjang hayatnya. Beberapa orang sahabat telah terbunuh ketika bertindak melindungi Nabi Muhammad s.a.w. dengan membuat perisai, namun baginda mengalami luka pada muka, bibir , kedua-dua lutut , pipi dan patah giginya ketika terjatuh ke dalam perangkap yang digali oleh Abu Amar Al Rahab.

Selepas pertempuran hebat, kebanyakan tentera Muslim berjaya berundur ke Uhud di mana mereka berkumpul semula. Menaiki kuda, pasukan Quraisy gagal mendaki lereng bukit dan kehilangan kelebihan serangan mengejut mereka. Perang ini berakhir apabila Abu Sufyan membuat keputusan tidak mengejar lanjut tentera Muslim, mengisytiharkan kemenangan.

Bilangan tentera Islam yang terbunuh dalam peperangan ini kira-kira 70 orang manakala jumlah tentera Quraisy seramai 23 orang.
Bapa saudara nabi, Saidina Hamzah bin Abdul Muttalib telah mati terbunuh oleh seorang hamba bernama [Wahsyi]. [Wahsyi]telah membaling lembing lalu terkena tulang rusuk Saidina Hamzah.Selepas peperangan, Hindun telah merentap hatinya lalu mengunyahnya kemudian diluahkannya.

Nabi Muhammad berasa amat sedih dan memerintahkan agar semua yang mati syahid dikebumikan dengan pakaian yang mereka pakai ketika berperang.

Setelah pulang ke Madinah, tentera Muslim mendapat penangan yang hebat apabila diejek oleh Yahudi dan Munafik Madinah dengan mengatakan yang mereka pasti terselamat jika tidak bersama berperang. Peristiwa ini memberi pengajaran kepada para sahabat dan umat Islam seluruhnya kepentingan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, selain ketua yang dilantik.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...